Tauhid sebagai titik berangkat
Menempatkan penghambaan kepada Allah sebagai dasar sebelum membahas keterampilan relasi dan kepemimpinan.
Ihsanul AdabThe Father Project
Ruang tumbuh laki-laki Muslim dewasa
Menjadi hamba, suami, ayah, dan pemimpin keluarga yang lebih utuh.
Perjalanan belajar untuk menata iman, adab, emosi, komunikasi, dan tanggung jawab agar ayah lebih hadir bagi keluarganya.
Sukawana, Bandung Barat
Tidak ada ayah yang selesai dalam satu langkah. Perubahan dimulai dari keberanian membaca diri, belajar, lalu menghadirkan ikhtiar yang konsisten di rumah.
Mengapa program ini hadir
The Father Project adalah program pembinaan daring bagi laki-laki Muslim yang ingin memahami dan menjalankan perannya secara lebih sadar.
Pembelajaran tidak berhenti pada teori pengasuhan. Peserta diajak menata diri sebagai hamba, memperbaiki relasi sebagai suami, hadir sebagai ayah, dan memberi arah sebagai pemimpin keluarga.
Peta pertumbuhan
Alurnya bukan tingkatan yang terpisah. Setiap peran memengaruhi cara seorang laki-laki hadir pada peran berikutnya.
Hamba
Suami
Ayah
Pemimpin
Realitas yang dihadapi
Tantangan berikut bukan alasan untuk menyerah. Ia adalah titik awal untuk mengenali apa yang perlu dibenahi.
Tuntutan untuk selalu kuat membuat banyak laki-laki sulit menemukan ruang refleksi yang sehat.
Tekanan pekerjaan kerap menghabiskan energi yang seharusnya juga hadir untuk istri dan anak.
Komunikasi di rumah mudah berubah menjadi marah, diam, atau saling menghindar.
Amanah sebagai pemimpin dipahami, tetapi langkah perbaikannya belum tersusun realistis.
Luka pengasuhan masa lalu dapat terbawa ke cara berelasi dengan keluarga hari ini.
Niat mendekat kepada Allah sering berbenturan dengan ritme hidup yang belum tertata.
Cara belajar
Setiap tahap menjaga pembelajaran tetap berakar pada tauhid, relevan bagi laki-laki dewasa, dan dapat dipraktikkan.
Menempatkan penghambaan kepada Allah sebagai dasar sebelum membahas keterampilan relasi dan kepemimpinan.
Materi membantu peserta membaca pengalaman, pola emosi, tanggung jawab, dan kebutuhan perubahan dirinya.
Pembelajaran diarahkan pada praktik di rumah: ibadah, komunikasi, kehadiran, dan pengambilan keputusan.
Proses belajar dibersamai agar peserta tidak berhenti pada informasi, tetapi mendapat arah untuk menerapkannya.
Teman seperjalanan membantu menjaga semangat, saling menasihati, dan melanjutkan ikhtiar setelah sesi selesai.
Perubahan yang diikhtiarkan
Teman seperjalanan
Peserta bertemu dalam ruang yang mendorong kejujuran, tanggung jawab, dan saling menasihati. Bukan untuk menghakimi, melainkan membantu setiap ayah kembali menata langkah.
Tanya tentang komunitasMenyampaikan pengalaman dan pergumulan tanpa dipermalukan.
Menerima nasihat yang berpijak pada ilmu, adab, dan kebutuhan nyata.
Berjalan bersama laki-laki lain yang juga sedang memperbaiki diri.
Untuk siapa
Pembina dan pengajar
Membersamai proses belajar, refleksi, dan penguatan peran laki-laki Muslim dalam keluarga.
Mulai dari kebutuhan yang nyata. Tiga hal ini membantu percakapan dengan admin menjadi lebih terarah.
Tanya adminTentukan peran yang paling membutuhkan perhatian saat ini.
Catat satu tantangan komunikasi atau kehadiran di rumah tanpa membuka aib keluarga.
Siapkan waktu untuk belajar dan mencoba langkah perbaikan dalam rutinitas keluarga.
Jawaban untuk membantu Anda memilih dengan lebih tenang.
Boleh. Program juga ditujukan untuk suami dan calon ayah yang ingin menyiapkan diri menjalankan amanah keluarga.
Tidak perlu membuka aib atau rincian pribadi yang tidak dibutuhkan. Sampaikan pertanyaan secara proporsional dan ikuti adab serta batasan forum yang dijelaskan pengajar.
Pembinaan berfokus pada ilmu, refleksi, penerapan, dan komunitas. Kegiatan luar ruangan mengikuti penyelenggaraan yang tersedia. Tanyakan format, lokasi, dan jadwal kegiatan kepada admin.
Hubungi admin dengan menyebut The Father Project dan kebutuhan Anda. Mintalah informasi kelas atau layanan yang tersedia, jadwal, biaya, persyaratan, serta ketentuan pendaftaran sebelum menentukan pilihan.
Mulai dari satu langkah