Lewati ke konten utama
Ihsanul AdabThe Father Project
Seorang lelaki Muslim dewasa tampak dari belakang berjalan di jalur perkebunan teh Sukawana, Bandung Barat

Ruang tumbuh laki-laki Muslim dewasa

The Father Project

Menjadi hamba, suami, ayah, dan pemimpin keluarga yang lebih utuh.

Perjalanan belajar untuk menata iman, adab, emosi, komunikasi, dan tanggung jawab agar ayah lebih hadir bagi keluarganya.

Sukawana, Bandung Barat

122+peserta dari berbagai daerah
4peran utama yang ditata bertahap

Tidak ada ayah yang selesai dalam satu langkah. Perubahan dimulai dari keberanian membaca diri, belajar, lalu menghadirkan ikhtiar yang konsisten di rumah.

Mengapa program ini hadir

Ayah tidak cukup hanya ada. Keluarga membutuhkan kehadirannya.

The Father Project adalah program pembinaan daring bagi laki-laki Muslim yang ingin memahami dan menjalankan perannya secara lebih sadar.

Pembelajaran tidak berhenti pada teori pengasuhan. Peserta diajak menata diri sebagai hamba, memperbaiki relasi sebagai suami, hadir sebagai ayah, dan memberi arah sebagai pemimpin keluarga.

Peta pertumbuhan

Empat peran, satu perjalanan yang saling menguatkan.

Alurnya bukan tingkatan yang terpisah. Setiap peran memengaruhi cara seorang laki-laki hadir pada peran berikutnya.

  1. 01

    Hamba

    Menata hubungan dengan Allah

    Membangun kesadaran bahwa seluruh peran berawal dari penghambaan, ibadah, dan amanah.
  2. 02

    Suami

    Menguatkan kemitraan dalam rumah

    Belajar hadir, mendengar, berkomunikasi, dan memikul tanggung jawab bersama dengan adab.
  3. 03

    Ayah

    Hadir dalam tumbuh kembang anak

    Mengupayakan kedekatan, keteladanan, pendidikan, dan rasa aman yang dibutuhkan keluarga.
  4. 04

    Pemimpin

    Memberi arah dengan ilmu

    Mengambil keputusan secara tenang, tegas, dan bertanggung jawab tanpa kehilangan kelembutan.

Realitas yang dihadapi

Banyak laki-laki ingin berubah, tetapi terlalu lama berjalan sendiri.

Tantangan berikut bukan alasan untuk menyerah. Ia adalah titik awal untuk mengenali apa yang perlu dibenahi.

  1. 01

    Tuntutan untuk selalu kuat membuat banyak laki-laki sulit menemukan ruang refleksi yang sehat.

  2. 02

    Tekanan pekerjaan kerap menghabiskan energi yang seharusnya juga hadir untuk istri dan anak.

  3. 03

    Komunikasi di rumah mudah berubah menjadi marah, diam, atau saling menghindar.

  4. 04

    Amanah sebagai pemimpin dipahami, tetapi langkah perbaikannya belum tersusun realistis.

  5. 05

    Luka pengasuhan masa lalu dapat terbawa ke cara berelasi dengan keluarga hari ini.

  6. 06

    Niat mendekat kepada Allah sering berbenturan dengan ritme hidup yang belum tertata.

Cara belajar

Dari memahami diri menuju kebiasaan baru di rumah.

Setiap tahap menjaga pembelajaran tetap berakar pada tauhid, relevan bagi laki-laki dewasa, dan dapat dipraktikkan.

01

Tauhid sebagai titik berangkat

Menempatkan penghambaan kepada Allah sebagai dasar sebelum membahas keterampilan relasi dan kepemimpinan.

02

Belajar secara reflektif

Materi membantu peserta membaca pengalaman, pola emosi, tanggung jawab, dan kebutuhan perubahan dirinya.

03

Latihan yang membumi

Pembelajaran diarahkan pada praktik di rumah: ibadah, komunikasi, kehadiran, dan pengambilan keputusan.

04

Bertumbuh bersama pengajar

Proses belajar dibersamai agar peserta tidak berhenti pada informasi, tetapi mendapat arah untuk menerapkannya.

05

Dikuatkan oleh komunitas

Teman seperjalanan membantu menjaga semangat, saling menasihati, dan melanjutkan ikhtiar setelah sesi selesai.

Perubahan yang diikhtiarkan

Ilmu diterjemahkan menjadi sikap yang dapat dirasakan keluarga.

  • Lebih sadar terhadap amanah diri sebelum menuntut perubahan dari keluarga.
  • Lebih hadir dalam ibadah, percakapan, pendidikan, dan keputusan rumah.
  • Lebih mampu merespons konflik dengan tenang, jelas, dan bertanggung jawab.
  • Memiliki arah pertumbuhan yang dapat dilanjutkan bersama komunitas.

Teman seperjalanan

Komunitas menjaga proses tidak berhenti setelah kelas.

Peserta bertemu dalam ruang yang mendorong kejujuran, tanggung jawab, dan saling menasihati. Bukan untuk menghakimi, melainkan membantu setiap ayah kembali menata langkah.

Tanya tentang komunitas
01

Didengar

Menyampaikan pengalaman dan pergumulan tanpa dipermalukan.

02

Diarahkan

Menerima nasihat yang berpijak pada ilmu, adab, dan kebutuhan nyata.

03

Dikuatkan

Berjalan bersama laki-laki lain yang juga sedang memperbaiki diri.

Untuk siapa

Untuk laki-laki yang siap bertanggung jawab atas pertumbuhannya.

  • Ayah yang ingin memperbaiki kehadiran dan kepemimpinannya di rumah.
  • Suami yang sedang menata kembali komunikasi serta tanggung jawab keluarga.
  • Calon ayah yang ingin menyiapkan diri sebelum memimpin rumah tangga.
  • Laki-laki dewasa yang ingin memutus pola fatherless dan membangun teladan baru.

Pembina dan pengajar

Ustadz Abu Ibrahim Heykal Sya'ban, M.Ag

Membersamai proses belajar, refleksi, dan penguatan peran laki-laki Muslim dalam keluarga.

Mulai dari satu langkah

Keluarga tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka membutuhkan ayah yang mau terus belajar dan hadir.